Skip to main content

Posts

Elasmobranchii

 

Berdamai dengan Kegagalan

Gelang Lombok Mahasiswa Teknologi Hasil Perikanan (THP) tak bisa jauh dari laboratorium “katanya”. Dimana ada ngelab pasti ada anak THP. Uh stigma itu benar tapi tak sepenuhnya dapat dipercaya 100%. Kegiatan yang mewajibkan untuk ubek-ubek di laboratorium mungkin yang mengacu dengan sebutan ini. Mulai dari maba sampai skripsi pasti akan dilaksanakan di dalam laboratorium. Tapi karena keliaran dan passion dalam diri seorang Melynda ini yang terus menolak. Disaat teman-temanku begitu bersemangat di dalam lab. Aku lebih suka mengeksplor diri “diluar”. Berada di laut, berinteraksi langsung dengan masyarakat, itu yang kucari. Ingin rasanya terjun langsung dalam masyarakat, belajar budaya baru dan berusaha menjadi manusia yang sedikit saja bermanfaat. Kegiatan itu mungkin kita kenal dengan nama pengabdian masyarakat . Semua organisasi kampus yang ku tahu pasti punya program pengabdian. Namun bukan itu yang kuinginkan, hanya sekadar melaksanakan kewajiban, mencapai target dan memb...

Satu Meja

Melynda Dwi Puspita Ada sebuah event yang diadakan NGO (Non Government Organization) , yaitu Climate Institute . Organisasi ini sering banget mengadakan workshop mengenai perubahan iklim dan always gratis. Jika ada Climate Institute, pasti ada FNF Indonesia (apa itu? Kalau kepo, cek aja instagramnya). Event itu bisa dikatakan semacam workshop bersama orang-orang keren, yaitu Climate Influencer Meeting . Mulai dari selebgram, ecopreneur, environmentalist, L-Men, Putri Pariwisata dan Putri Indonesia . Workshop ini fully funded gak seperti event mereka sebelumnya. Bahkan sampai biaya ojek pun juga dibayarin. Sebelumnya kegiatan ini direncanakan berlokasi di Yogyakarta namun akhirnya berpindah ke Bandung. Aku sangat tertarik dengan isu lingkungan . Gak berharap banyak sih, siapalah aku? Peserta Climate Influencer Meeting Pengumuman peserta yang lolos divisualisasikan dalam foto bertwibbon di instagram. Kulihat, yang lolos tuh orang-orang keren, followernya buanyak banget....

Dibalik Pesona Ombak Pantai Wedi Awu

Pantai Wedi Awu Pantai Wedi Awu terletak di Kecamatan Tirtoyudo. Masih belum banyak orang yang mendengar keelokan pantai ini, termasuk diriku. Pengalaman pertama berkunjung kesana diberikan kepadaku karena mengikuti proyek pengabdian dosen pembimbing skripsiku, Bu Hartati. Juga ada Pak Maftuch dan Pak Syihab sebagai anggota tim. Pak Maftuch juga mengajak rekan seorganisasinya. Ada yang pengusaha bahkan pilot. Mereka keren banget deh!! (semakin ngerasa jadi butiran pasir hmmm). Tujuan pengabdian ini adalah memberikan pelatihan pengolahan sumberdaya perikanan. Yaitu membuat abon ikan dengan substitusi jantung pisang. Terdengar sederhana memang, namun proses pelaksanaannya yang berat. Terjun langsung ke dalam lingkungan warga pesisir pantai .   Pengabdian Masyarakat Sungguh pengalaman tak berharga. Aku bersama Nurul, Nessa dan Roi sangat diterima dengan baik dalam lingkungan mereka. Perjalanan cukup berat, jalan berkelok-kelok, penerangan sangat minim dan disuguhi...

Berasa Jadi Dokter

Minyak Ikan Masih ingat kan kalau cita-citaku ingin jadi dokter ? Walaupun jurusan kuliahnya melenceng jauh, yaitu dokter ikan . Tapi alhamdulillah Tuhan punya jalan lain untuk diriku agar merasakan kegiatan yang dilakukan dokter. Salah satunya melaksanakan penelitian mengenai bidang kedokteran. Berawal dari kewajiban membuat proposal untuk skripsi kira-kira saat semester 5. Mata kuliah yang diampu Bu Anies Chamidah, yaitu Metode Ilmiah (Metil). Beliau yang menginginkan keterbaruan, “ novelty ” dari judul skripsi yang di presentasikan. Memaksaku untuk memutar otak. Melihat potensi dan kebutuhan minyak ikan laut yang tinggi. Namun minyak ikan lebih dikenal berasal dari ikan cod yang tidak hidup di perairan Indonesia. Akhirnya aku memutuskan meneliti minyak ikan kembung yang “katanya” mengandung omega tiga tinggi. Selain itu, melihat penyakit jantung menjadi salah satu penyakit pembunuh terbanyak di Indonesia yang cikal bakalnya dari aterosklerosis (pengerasan pembuluh darah). ...

Mengalir Sampai Jauh

Latihan Renang Maaf gak di sensor!! Kalau ditanya gimana rasanya belajar renang? Jawabannya seneng, capek, takut, campur aduk deh. Jadi dulu waktu SD tuh pernah rekreasi ke Taman Sengkaling. Udah pakai pelampung yang bentuknya bebek. Udah dasarnya bandel, udah tau masih kecil dan gak bisa renang. Aku ngotot buka pelampung saat berenang di kolam yang cukup dalam bagi anak SD. Aku kasih pelampungnya ke mbakku. Dan yahh, jelas aku hampir tenggelam. Udah banyak minum air kolam (hyuhhh), kembung deh. Semenjak itu udah ketakutan buat berenang lagi, tapi kalau cuma main-main air dipinggir kolam sih suka. Kuliah di perikanan jadi tumbuh kesadaran diri. Harus bisa renang dong, masak ikan gak bisa renang? Alhamdulillah aku punya teman yang baik, Fitra. Saat libur kuliah, ia dengan sukarela mengajariku basic berenang. Mulai dari menahan nafas, membuka mata saat di dalam air, mengambang dan meluncur. Jadi udah gak terlalu takut untuk “berinteraksi” dengan air. Masuk di prodi Teknolo...

Ada Apa di Pantai Tiga Warna?

Pantai Tiga Warna Yang tinggal di Malang, pasti tau dong kalau Kabupaten Malang memiliki puluhan pantai yang indah? Berada di selatan Pulau Jawa , pantai-pantai disana tentunya dihiasi ombak yang cukup besar. Selain itu, pantai selatan juga erat kaitannya dengan Nyi Roro Kidul . Skip bahas mitos ya!!! Perjalanan yang harus dilalui menuju pantai selatan Malang sejauh puluhan kilometer dari pusat kota. Pantai-pantai disana masih banyak yang perawan. Track yang cukup sulit, melewati jalan berkelok-kelok, minimnya lampu penerangan jalan dan disuguhi jurang di sepanjang perjalanan. Ada satu pantai yang sayang untuk dilewatkan, yaitu Pantai Tiga Warna. Mengapa disebut Pantai Tiga Warna ? Karena air laut di pantai itu berwarna putih, hijau tosca dan biru. Sungguh menawan. Selain tertarik dengan keindahan alamnya. Ada satu hal unik yang mendorong diriku untuk semakin jauh mengetahui seluk-beluk pantai ini. Yaitu sistem manajemennya berbasis pemberdayaan masyarakat . CMC Tiga Warna ...

Mencicipi Manisnya Daging Udang

Panen Udang Lagi-lagi ke tambak, gak bosan ya? Alhamdulillah tidak, suka aja menghitamkan kulit hihi. Mudah sekali menemukan tambak udang vannamei di Pantai Utara Pulau Jawa (Pantura) termasuk Tuban, Jawa Timur. Jiwa petualangan dalam diri terus meningkat. Nekat lagi, mengajak teman-teman untuk memanfaatkan waktu liburan semester dengan kegiatan bermanfaat. Mereka adalah Abdi, Nurul, Iza, Ucup, Pandu, Janet, Restu dan Nada. Aku memberanikan diri untuk menjadi seorang ketua tim, walaupun hanya untuk formalitas hahaha. Berkendara motor bersama Nada dari Malang ke Tuban. Perjalanan yang melelahkan. Namun ada juga yang lebih memilih naik kendaraan umum. Sempat beberapa kali berhenti karena berulang kali tersesat. Karena perjalanan dimulai siang hari, kami pun sampai di Lamongan sudah petang hari. Jadi kami memutuskan untuk menginap di kediaman Nurul dan melanjutkan perjalanan keesokanharinya. Tebar Benih Makan Bersama Kami menuju Tambak milik Pak Hudi yang berada di...